Tahlilan merupakan budaya Islam yang mendarah daging di masyarakat. Kumandang kalimat tahlil di malam buta memperindah suasana heningnya desa, berharap ridha sang pencipta serta do'a untuk keluarga yang telah tiada agar kuburnya terang oleh cahaya.

Di Desa Wonokerso hampir setiap Rukun Tangga atau kampong-kampung memiliki kegiatan tahlilan. Bagaimana tidak, pengaruh budaya NU yang sangat kut di masyarakat Jawa Timur menjadi salah satu faktor menjamurnya kegiatan ini.

Salah satu dusun yang juga sering melaksanakan tahlilan adalah Dusun Segenggeng, dimana tahlilan dilaksanakan 3 kali dalam seminggu. Foto ini menggambarkan potret tahlilan di rumah salah satu warga Dusun Segenggeng RT 13 RW 03. Dapat dilihat bagaimana antusiasme dan wajah sumringah ibu-ibu saat melaksanakan kegiatan ini.

Walaupun tahlilan merupakan perkara khilafiyah dimana terdapat perbedaan pendapat antar ormas Islam, ada yang "membithahkan" ada juga yang memperbolehkan. Terlepas dari hal tersebut, tahlilan memiliki esensi tak hanya membaca kalimat tahlil, do'a-do'a dan surat Yasiin, tetapi juga terjalinnya kebersamaan dan kerukunan antar warga.

Seringnya interaksi antar warga secara tidak langsung akan menciptakan kondisi masyarakat yang peduli satu sama lain, hingga menciptakan lingkungan sosial yang kondusif. Adanya pengajian, apabila ada salah satu warga yang tidak mengikuti tahlilan atau kegiatan lainnya karena sakit atau ada udzur lain, warga lainnya akan mengetahuinya. Hal ini mampu meminimalisir sikap apatis yang menjadi tren warga zaman now. Hal ini merupakan salah satu alasan mengapa warga desa identik dengan masyarakat yang peduli, ramah, dan memiliki kontrol social yang tinggi.

Selain itu jika terjadi konflik antar warga akan cepat terselesaikan dengan terjalinnya komunikasi antar warga yang sehat dikarenakan seringnya interaksi, sehingga ridha Allah hadir dalam bentuk ketentraman masyarakat yang kemudian akan berdampak positif pada kehidupan individu yang hidup dalam masyarakat tersebut.

Semoga keharmonisan tetap terjaga di Desa Wonokerso, aamiin..

 

Penulis : Ummu Bisyarah